Kamis, 04 Desember 2014

Do'a Minta Jodoh



Do’a Minta Jodoh

Begitu banyak di dunia ini laki-laki maupun perempuan yang belum menemukan dan masih menanti-nantikan jodohnya. Sebagai fitrah manusia dan termasuk amalan yang disunnahkan nabi SAW, menikah adalah salah satu dambaan setiap orang di segala penjuru dunia ini. Dan Allah pun telah menjadikan segala sesuatu di dunia ini berpasang-pasangan. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
"Maha Suci ALLAH yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui." (QS Yaasiin 36)

Lalu bagaimanakah jika sudah sampai waktunya, namun jodoh yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba? Adakah do’a yang diajarkan dalam Al Qur’an untuk meminta dipertemukan dengan jodoh kita? Berikut ini adalah beberapa di antaranya:

Doa Minta Jodoh 1

"RABBANAA HABLANAA MIN AZWAAJINAA, WA DZURRIYYATINAA QURRATA A'YUNIW WAJ'ALNAA LIL MUTTAQIINAA IMAAMAA."

"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami jodoh [isteri-isteri] kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang2 yang bertakwa." (QS Al-Furqaan: 74)

Do’a Minta Jodoh 2 

 

“ROBBI LAA TADZARNII FARDAN WA ANTA KHOIRUL WAARITSIIN”.

"Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik. (Al-Anbiya’: 89)

Demikianlah do’a minta jodoh yang bisa kita amalkan. Tentu saja dengan menghadirkan hati yang khusyu’, niat yang lurus dan benar-benar mengharap pertolongan Allah SWT, semoga do’a yang kita panjatkan senantiasa diijabah dan segera menjadi kenyataan. Aamiin.

By: Fitri Wardati

Senin, 01 Desember 2014

Ukhti, Aku Mencintaimu Karena Allah



Ukhti, Aku Mencintaimu Karena Allah

Saat ku melihat kibaran jilbabmu
Saat itulah benih-benih cintaku pun berkibaran
Saat ku dengar lantunan ayat-ayat cinta dari Rabbmu kau kumandangkan
Saat itulah ku rasakan getar, ketenangan menyelinap dalam hati

Ukhti, tahukah engkau?
Bahwa di dunia ini, kelezatan dunia adalah tinggal tersisa tiga perkara;
Qiyamul-lail, berjumpa dengan ikhwah (saudara seiman), dan shalat berjama’ah,
Kata Ibnul Munkadir
Maka, berjumpa denganmulah salah satu yang membahagiakan bagiku

Ukhti…
Meski mungkin jiwa kita jarang bersua
Atau sekedar bersapa itu tak mengapa
Asalkan engkau tahu, bahwa sesungguhnya hatiku telah terpaut dengan hatimu
Ku selipkan namamu dalam tiap do’aku

Aduhai manisnya ukhuwah kita

Begitu pun saat ku dengar suaramu yang merdu
Meski hanya dapat ku dengar, ku tlah mampu merasakan hadirmu
 
Yakinlah, meski aku tak selalu ada di dekatmu
Namun aku telah terlanjur mencintaimu, “dalam dekapan ukhuwah ImBi”

Maha Suci Allah yang telah menghadirkanmu di sekitarku
Mungkin aku sangat banyak kekurangan, menjengkelkan, atau tak menyenangkan
Maka dari itu, aku mohon mengertilah…
Karena sesungguhnya aku merindukanmu, membutuhkanmu sebagai saudariku
Saudari yang tak lelah atau bosan untuk saling mengingatkan
Baik dalam hal kebenaran maupun kesabaran


<3…Ukhti, I do love you because of Allah… <3

Kamis, 30 Oktober 2014

Kisah antara Aku dan Si Merah Marun (IMM) bag. 4



Lanjutan... Aku dan Ikatanku (Penutup)

Cambukan untuk Kami
Berbulan-bulan, edisi demi edisi, Sinar Melati tersebar hampir ke seluruh penjuru daerah. Namun, di balik itu semua masih sering dan banyak kali pertemuan rutin tak berjalan dengan mulus. Seperti tadi, yang kesorean-lah, tertabrak liburan, tertabrak kuliah, tim redaksi yang non-aktif, hingga dimungkinkan semangat gerakanlah yang sebenarnya luntur. Nampaknya bait lagu ini sangat perlu diteriakkan kembali ke telinga-telinga para kader kita!
Ingatlah, ingat… ingat…
Niat t’lah diikrarkan
Kitalah cendikiawan berpribadi
Susila cakap taqwa kepada Tuhan
Pewaris Tampuk pimpinan umat nanti

Niat, ya Niat! Kalau bukan karena Allah Ta’ala, tentu saja bisa jadi sia-sia perjuangan kita. Masing-masing kita harus senantiasa memurnikan niat, karna kitalah cendikiawan berpribadi yang sekaligus pewaris tampuk pimpinan umat nanti.  

Dipertemukan dengan Rekan-rekan yang Luar Biasa
Sampailah aku di semester 4, ya… di semester 4 menuju semester 5, kurang lebih 2 tahun aku mengenal si Merah. Yang paling spesial, ada beberapa sosok-sosok baru di SM. Wajah lama, namun memberi aura baru kali ini! Kawan-kawan dari PK FKIP semakin mengeratkan ikatan yang sempat hampir punah. Hemat kata, merekalah kader-kader asli yang lebih dulu berpetualang dalam baret merah (dibanding aquuuh).

Orang-orang luar biasa itu adalah Ukhti Oktri Susanti, Immawati Tika Mawarni, Immawati Kama Nur Anisa, Immawati Surti, Immawan Lihan Khudori, Immawan Lukman Wiganda, Immawan Rofiq Ibnu Kamsidi (alias Sugeng Santoso), Immawan Wiyanto, dan masih beberapa lagi yang mungkin belum sempat aku tuliskan. Bersama mereka, bertambah lengkaplah pasukan ini. Alhamdulillah…

Sejak saat itulah ide-ide positif yang baru banyak bermunculan. Sekali lagi, dengan semangat lama yang terbarukan, kami senantiasa bergerak dalam pencerahan umat. Mulai dari satu momen yang masih ku ingat, agenda pergantian formatur pimpinan redaksi. Setelah melalui sistem voting langsung, terpilihlah Immawan Yoga Hasdi A (Si Pemberontak) yang menggantikan posisi Yunda Immawati Ayu Lestari sebagai Pimpinan Redaksi. Tampak jelas tidak hanya dari raut wajah Bang Yoga, namun dari tiap kata yang ia lontarkan, seperti begitu berat rasanya amanah itu ia pikul. Kasihan Bang Yoga… (cekikik hatiku :D)

Nah, sejak saat itulah pula perubahan-perubahan kembali kami (baca: aku) rasakan. Penguatan komitmen sebagai tim redaksi dalam SM tak henti-hentinya Bang Yoga koarkan, sehingga dibantu oleh Mbak Oktri dan kawan-kawan lainnya dengan begitu semangat. Penuh gegap gempita, namun terkadang “galau”, hampir tiap pekan beliau mengirimi kami SMS untuk mengundang rapat rutin. Walaupun ya… hanya satu, dua, lima orang yang datang. Itu tak mengapa, rapat-rapat pun tetap berjalan. Hingga ide-ide menarik banyak bermunculan, seperti Kajian keislaman khusus akhwat SM, launching Komunitas Penghafal Al Qur’an yang bekerjasama dengan PC IMM Kota Metro, dan juga ini! Ini lhoo, buku yang sekarang ada di tangan kawan-kawan pembaca semua. Dengan diterbitkannya buku antologi karya tim redaksi SM yang masih bertahan inilah yang menjadi persembahan sederhana kami sebagai anak negeri.Yap, yap, yap… dari sini pula semangatku untuk bertahan kembali muncul.

Akhirnya, (namun bukan akhir dari segalanya) aku semakin butuh untuk mengenal ikatanku. Ternyata banyak juga problematika yang sempat aku hadapi di perjalanan ta’aruf dengan ikatan ini. Aku juga masih menikmati gelombang-gelombang perjuangan yang jika dibandingkan dengan kawan-kawan ikatan terdahulu, belum ada apa-apanya. Yaa,, hanya saja “Selagi saya masih bisa memberi kontribusi positif, insyAllah akan saya beri. Saya pun akan membantu seperti yang bisa saya lakukan. Sekali lagi, sekuat-semampu saya”.

Terima kasihku pun tak lupa ingin aku sampaikan pada Mbakku Tersayang, yang dengan beliau aku banyak belajar dan sedikit banyak mengerti tentang keadaan ikatan merah di tanah pendidikan ini _Yunda Immawati Nunik el-Zhafira. Kami yang sama-sama berangkat dari pondok, sangat merasakan perjuangan yang sedikit berbeda. Harus lebih banyak mengerti keadaan dalam pondok, memperkokoh karakter, menjaga nama baik almamater dan terus berusaha memenej diri maupun waktu secara lebih ekstra. Singkat kata, dari sekelumit kisah perjalanan yang telah ku uraikan, satu pelajaran yang dapat kita ambil…

_Itulah Kehidupan, Tak Pernah Lepas dari Segala Bentuk Perjuangan_

Pesan terakhir, semangatlah kawan-kawan ikatan… Karena ada Allah bersama kita…
Immawan dan Immawati
Siswa teladan Putra harapan
Penyambung Hidup generasi
Ummat Islam seribu zaman
Pendukung cita-cita luhur
Negri indah adil dan makmur

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Q.S Muhammad :7)
  
Wallahu a’lam bishshowab…

*Oleh: Fitri Wardati
*Diterbitkan pada tahun 2014 dalam buku antologi:


SINAR MELATI



Romantika Pendaran Cinta,
                      Karena Setiap Cinta Memiliki Cintanya Sendiri