Kamis, 30 Oktober 2014

Kisah antara Aku dan Si Merah Marun (IMM) bag. 4



Lanjutan... Aku dan Ikatanku (Penutup)

Cambukan untuk Kami
Berbulan-bulan, edisi demi edisi, Sinar Melati tersebar hampir ke seluruh penjuru daerah. Namun, di balik itu semua masih sering dan banyak kali pertemuan rutin tak berjalan dengan mulus. Seperti tadi, yang kesorean-lah, tertabrak liburan, tertabrak kuliah, tim redaksi yang non-aktif, hingga dimungkinkan semangat gerakanlah yang sebenarnya luntur. Nampaknya bait lagu ini sangat perlu diteriakkan kembali ke telinga-telinga para kader kita!
Ingatlah, ingat… ingat…
Niat t’lah diikrarkan
Kitalah cendikiawan berpribadi
Susila cakap taqwa kepada Tuhan
Pewaris Tampuk pimpinan umat nanti

Niat, ya Niat! Kalau bukan karena Allah Ta’ala, tentu saja bisa jadi sia-sia perjuangan kita. Masing-masing kita harus senantiasa memurnikan niat, karna kitalah cendikiawan berpribadi yang sekaligus pewaris tampuk pimpinan umat nanti.  

Dipertemukan dengan Rekan-rekan yang Luar Biasa
Sampailah aku di semester 4, ya… di semester 4 menuju semester 5, kurang lebih 2 tahun aku mengenal si Merah. Yang paling spesial, ada beberapa sosok-sosok baru di SM. Wajah lama, namun memberi aura baru kali ini! Kawan-kawan dari PK FKIP semakin mengeratkan ikatan yang sempat hampir punah. Hemat kata, merekalah kader-kader asli yang lebih dulu berpetualang dalam baret merah (dibanding aquuuh).

Orang-orang luar biasa itu adalah Ukhti Oktri Susanti, Immawati Tika Mawarni, Immawati Kama Nur Anisa, Immawati Surti, Immawan Lihan Khudori, Immawan Lukman Wiganda, Immawan Rofiq Ibnu Kamsidi (alias Sugeng Santoso), Immawan Wiyanto, dan masih beberapa lagi yang mungkin belum sempat aku tuliskan. Bersama mereka, bertambah lengkaplah pasukan ini. Alhamdulillah…

Sejak saat itulah ide-ide positif yang baru banyak bermunculan. Sekali lagi, dengan semangat lama yang terbarukan, kami senantiasa bergerak dalam pencerahan umat. Mulai dari satu momen yang masih ku ingat, agenda pergantian formatur pimpinan redaksi. Setelah melalui sistem voting langsung, terpilihlah Immawan Yoga Hasdi A (Si Pemberontak) yang menggantikan posisi Yunda Immawati Ayu Lestari sebagai Pimpinan Redaksi. Tampak jelas tidak hanya dari raut wajah Bang Yoga, namun dari tiap kata yang ia lontarkan, seperti begitu berat rasanya amanah itu ia pikul. Kasihan Bang Yoga… (cekikik hatiku :D)

Nah, sejak saat itulah pula perubahan-perubahan kembali kami (baca: aku) rasakan. Penguatan komitmen sebagai tim redaksi dalam SM tak henti-hentinya Bang Yoga koarkan, sehingga dibantu oleh Mbak Oktri dan kawan-kawan lainnya dengan begitu semangat. Penuh gegap gempita, namun terkadang “galau”, hampir tiap pekan beliau mengirimi kami SMS untuk mengundang rapat rutin. Walaupun ya… hanya satu, dua, lima orang yang datang. Itu tak mengapa, rapat-rapat pun tetap berjalan. Hingga ide-ide menarik banyak bermunculan, seperti Kajian keislaman khusus akhwat SM, launching Komunitas Penghafal Al Qur’an yang bekerjasama dengan PC IMM Kota Metro, dan juga ini! Ini lhoo, buku yang sekarang ada di tangan kawan-kawan pembaca semua. Dengan diterbitkannya buku antologi karya tim redaksi SM yang masih bertahan inilah yang menjadi persembahan sederhana kami sebagai anak negeri.Yap, yap, yap… dari sini pula semangatku untuk bertahan kembali muncul.

Akhirnya, (namun bukan akhir dari segalanya) aku semakin butuh untuk mengenal ikatanku. Ternyata banyak juga problematika yang sempat aku hadapi di perjalanan ta’aruf dengan ikatan ini. Aku juga masih menikmati gelombang-gelombang perjuangan yang jika dibandingkan dengan kawan-kawan ikatan terdahulu, belum ada apa-apanya. Yaa,, hanya saja “Selagi saya masih bisa memberi kontribusi positif, insyAllah akan saya beri. Saya pun akan membantu seperti yang bisa saya lakukan. Sekali lagi, sekuat-semampu saya”.

Terima kasihku pun tak lupa ingin aku sampaikan pada Mbakku Tersayang, yang dengan beliau aku banyak belajar dan sedikit banyak mengerti tentang keadaan ikatan merah di tanah pendidikan ini _Yunda Immawati Nunik el-Zhafira. Kami yang sama-sama berangkat dari pondok, sangat merasakan perjuangan yang sedikit berbeda. Harus lebih banyak mengerti keadaan dalam pondok, memperkokoh karakter, menjaga nama baik almamater dan terus berusaha memenej diri maupun waktu secara lebih ekstra. Singkat kata, dari sekelumit kisah perjalanan yang telah ku uraikan, satu pelajaran yang dapat kita ambil…

_Itulah Kehidupan, Tak Pernah Lepas dari Segala Bentuk Perjuangan_

Pesan terakhir, semangatlah kawan-kawan ikatan… Karena ada Allah bersama kita…
Immawan dan Immawati
Siswa teladan Putra harapan
Penyambung Hidup generasi
Ummat Islam seribu zaman
Pendukung cita-cita luhur
Negri indah adil dan makmur

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Q.S Muhammad :7)
  
Wallahu a’lam bishshowab…

*Oleh: Fitri Wardati
*Diterbitkan pada tahun 2014 dalam buku antologi:


SINAR MELATI



Romantika Pendaran Cinta,
                      Karena Setiap Cinta Memiliki Cintanya Sendiri

Kisah antara Aku dan Si Merah Marun (IMM) bag. 3



Lanjutan... Aku dan Ikatanku

Lanjutkan Kawan, Aku di Belakang Kalian!

“Reni, Deka… gimana DAD kemarin? Sayang banget ya aku nggak bisa ikut…” tanyaku pada Reni dan Deka teman satu kelasku yang berkesempatan ikut DAD.
“Ya gitu deh Fit… Kamu nggak ikut sii… lumayan seru,,, dikasih materi sampe malem tw...”, jawab Reni.
“Oh iya Fit, nanti siang jam 1 kita ada rapat-pertemuan lhoo, tindak lanjut dari DAD kemarin… bidang pendidikan atau apaa gitu,, kamu ikut yuk?...”, ajak Deka.
“Hah??? Rapat apa? Bidang pendidikan? Yaa pengen sih.. tapi malu, aku kan nggak ikut DAD”, sangkalku.
“Wes tho,,, rapopo… ikut aja,,, kamu kan pinter ngomong, la aku nanti nggak tahu apa-apa gimana? Ikut ya Fit… Ya… Ya…??”, rayu Deka dan Reni.
“Haaa? Yakin,, apa nggak papa?”
“Iya, nggak papa… temenin kita aja.”
“Hemm… okelah kalo begitu, aku juga penasaran, pingin tau aja agendanya ngapain ya?”
“Siip… nanti kumpul di masjid ya. Ada Kak Johan juga koq… hee”.

Ba’da dzuhur kami bergegas ke masjid. Hingga kawan-kawan berkumpul, aku belum mengerti agendanya seperti apa siang ini? Deka dan Reni pun demikian. Eh, ternyata yang hadir ya kawan-kawan ikatan… Kakak-kakak yang pernah aku liat ketika MASTAMA dulu. Wuiih… nggak nyangka aku akan berada dalam satu lingkaran bersama kawan-kawan ikatan merah!
“Iya, jadi kita akan menyusun tim redaksi baru untuk buletin Sinar Melati milik IMM.”, begitulah cuplikan penjelasan salah seorang Kakak IMM yang telah mengundang kader-kader baru seperti kami.
“Haa?? Buletin Sinar Melati? Apa lagi ini?” tanyaku dalam hati. “Ooo, jadi kita akan dilibatkan dalam pembentukan tim redaksi Buletin Sinar Melati? Menarik juga…” pikirku.
“Ya, teman-teman jangan khawatir, meski mungkin di sini ada yang belum ikut DAD, bukan masalah besar sepertinya. Yang penting kontribusi teman-teman dalam ikatan. Tidak usah berkecil hati…” jelas salah seorang Kakak yang hadir pada waktu itu.
Waduuh,, koq tau ya? Hehe, aku memang sempat minder, belum merasa pantas bergabung di sini. Tapi yaa.., aku juga pingin memberi kontribusi positif untuk ikatan merah ini yang sejak pertama kali aku mengenalnya aku sudah jatuh cinta… :D

Muktamar IMM XVI-Surakarta
Setiap Rabu sore kami berkumpul untuk membahas persiapan penerbitan Sinar Melati edisi selanjutnya. Kalau tidak salah, saat kami bergabung pada waktu itu, umur Sinar Melati sudah sampai terbitan yang ke VI. Diskusi demi diskusi telah kami lalui. Pada kali pertamanya kami tergabung, SM di bagi menjadi beberapa rubrik. Ada Kantin Rohani, Pendidikan, IPTEK, dan Kesehatan. Di edisi ke VI itu aku mendapat bagian di rubrik Pendidikan, satu tim bersama Immawan Barep. Untuk pertama kalinya, kami bersinergi untuk membuat satu judul tulisan tentang UAS, karena saat itu telah dekat dengan masa-masa UAS. Serta merta, jari jemari ini mulai tergerak untuk menulis bahasan tentang pendidikan. Hingga akhirnya… tulisan kami disetorkan pada Redaktur Immawan Johan, lalu ke Editor Immawan Khoirum Mahmuda. Dan taa daa… tulisan kami berhasil dimuat dalam Buletin Sinar Melati yang terbit pada tanggal 19 Desember 2011. Bersama kawan-kawan Reporter lainnya; Arif Muamar, Yoga Hasdi A (sekarang PimRed SM), Andi Pebriudin, Naila Milaturrahmah, Barep Pangestu, Sholehudin Ma’ruf, Paryadi, Syahid, Ida Sutaningsih, Ukhti Olifia, Dewi Karini, Reni Anggraini, dan M. Sodikin. Bagian percetakan & distributor saat itu adalah Budiyanto, sedangkan Keuangan dipegang oleh dua Immawati cantik Iin Fidiyanti dan Lilik Setiana (Ukhti Hilyatunnisa yang sekarang pergi dari sisiku, entah kemana.. :P)

Sungguh, pada kali terbitan itu, aku sendiri senang bukan main. Seujung kuku karyaku bersama kawan-kawan redaksi bisa sampai ke tangan publik. Walau mungkin baru di kalangan kita sendiri, termasuk orang tuaku di rumah, tapi mereka terlihat sangat senang membaca buletin kami.
“Bapak, Ibu… baru ini yang bisa aku tunjukkan pada kalian sebagai anak Persyarikatan. Semoga Ibu dan Bapak sedikit bangga meng-kuliahkanku di sini sampai detik ini”, gumamku dalam hati.
Secuil prestasi kecil ini tak lain dan tak bukan adalah karena berkat Rahmat Allah swt kepada kami. Dan yang kedua… hal ini pun tak lepas dari sentuhan lembut Ayunda kami tercinta, Ayu Lestari yang saat ini duduk di DPD IMM Lampung. Semangat beliau tak kalah hebohnya dibanding kami adik-adik tingkatnya di ikatan ini. Beliaulah yang menjadi tonggak gerakan, Ketua Redaksi saat itu. Immawati sejati… inspirasi kami untuk terus bergerak dalam pencerahan umat. Kalau bukan karena kesabaran, motivasi dan kehadiran beliau… entah apakah Sinar Melati akan terus bersinar? (#luv u so much mbak Ayu… ;)

Meski memang, banyak sekali hambatan-hambatan yang kami lalui kala itu. Mulai dari hari Rabu yang sering hujan deras, kumpul untuk rapat tapi kesorean, sampai anggota Tim yang berguguran. Yaa… kini semua tinggal sejarah, yang mungkin bagiku sendiri akan selalu tersimpan. Apa lagi ketika mengingat awal sejarah SM di kampus UMMetro tercinta ini yang pernah diceritakan Mbak Ayu. Penuh cerita dan dramatis… T_T


...Bersambung...

Kisah antara Aku dan Si Merah Marun (IMM) bag. 2



Lanjutan... Aku dan Ikatanku
 
Niatku Sudah Ada Sejak Itu…

Terdengar kabar akan ada Darul Arqam Dasar bagi mahasiswa baru yang ingin bergabung dengan ikatan merah. Wah, alangkah bagusnya jika aku segera mendaftarkan diri dan bertemu dengan kawan-kawan baru di sana. Langsung saja ku dapatkan formulir pendaftaran DAD dan ku isi dengan penuh semangat. Ku antarkan secarik kertas berisi biodata itu ke sekret IMM dekat masjid kampus. Dengan penuh keyakinan, ku serahkan formulir itu sampai hari screening tiba. Bersama seorang sahabat baruku yang ia juga ingin ikut DAD, kami melewati screening dengan lancar. Hanya saja ia baru menyusulku seusai pulang kuliah.
Satu persatu kakak-kakak penguji menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan Gerakan, Motivasi, dan Kendala-kendala yang mungkin akan aku hadapi ketika nantinya sudah bergabung dengan IMM. Aah,, pertanyaan-pertanyaan itu sempat membuat aku bingung, tapi yaa Alhamdulillah dapat ku jawab dengan tuntas. Hingga akhirnya… informasi Technical Meeting sampai juga ke ponselku. J Secara otomatis, ini berarti aku telah diterima menjadi salah satu peserta DAD FKIP yang seminggu kemudian akan diadakan selama kurang lebih 3 hari lamanya.
“Tya, yuk kita izin ke Ustadz… mudah-mudahan kita boleh ya ikut DAD ini”, ajakku kepada Asmara Tantya, sahabatku yang hendak ikut DAD juga.
“Ya udah yuk, mumpung sekarang Ustadz ada di ruang tamu”, jawab Tya.
Kami berdua dengan penuh harap-harap cemas mendatangi Ustadz Samson untuk menanyakan perihal ini.
“Kayfa Ustadz? Apa kami boleh ikut DAD FKIP hari Jum’at besok?”
Taa daaa… ternyata jawaban Ustadz di luar dugaan kami. Jawaban beliau sungguh sempat melunturkan semangat dan niat kami kali ini. Kami yang pada waktu itu masih semester satu butuh waktu untuk menyadari dan menerima keputusan ini. Apa maksud Ustadz menghalangi gerak kami? Kami juga kan kader… ingin ikut pengkaderan, khususnya di IMM, yang jelas-jelas anaknya Muhammadiyah… Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ‘kan???
Subhanallah… kami memang harus berlapang dada. Tapi… benar juga kata Ustadz, posisi kami di sini selain sebagai mahasiswa juga ya mahasantri. Jadi kami harus “manut” dengan nasehat Ustadz selagi nasehat itu baik. Kami betul masih semester satu, masih harus menimba ilmu yang lebih banyak, menambah hafalan Qur’an, fokus belajar pondok juga perkuliahan di kampus. Selain itu, dikhawatirkan ketika sudah masuk organisasi nanti kami akan tersibukkan dengan agenda-agenda luar pondok. Yaa… semacam itulah alasan-alasan bagi kami ketika belum diberi izin untuk berkiprah di dunia organisasi (baca: ikatan). Dan yang paling diwanti-wanti oleh pihak pondok memang, ketika kita di luar pondok pasti akan banyak komunikasi dan interaksi yang lebih dengan lawan jenis. Itulah fitnah yang paling dikhawatirkan Asatidz dan mbak-mbak kami di pondok yang lebih berpengalaman. Intensitas pertemuan dengan lawan jenis akan semakin tinggi, dan jebakan-jebakan “modus” mungkin saja akan terjadi dan lama kelamaan merajalela. (Haha…)
Okelah kalau begitu,,, kami harus bersabar paling tidak sampai kami semester 3, 5 atau 7. Eh, bukan… bukan hitungan semester, tapi hitungan hafalan Qur’an! Paling nggak kami harus punya hafalan 5 juz lebih baru boleh bergabung dan masuk dalam kepengurusan organisasi lain di luar pondok. Aku sendiri sempat kecewa, tapi yaa apalah daya… Ustadz pasti lebih tahu bagaimana baiknya untuk kami yang masih polos ini,,,
Maka sejak saat itulah, meski aku belum bisa bergabung dalam baret merah… aku sudah bertekad, meniatkan dalam hati, yakin dan percaya bahwa izin itu akan aku dapat di suatu saat nanti! “Kalau memang kali ini aku gagal ikut DAD,, lihat saja, I believe… insyAllah in the next year I can join it!” (#hahaha…)

...Bersambung...