Lanjutan... Aku dan Ikatanku
Niatku
Sudah Ada Sejak Itu…
Terdengar
kabar akan ada Darul Arqam Dasar bagi mahasiswa baru yang ingin bergabung
dengan ikatan merah. Wah, alangkah bagusnya jika aku segera mendaftarkan diri
dan bertemu dengan kawan-kawan baru di sana. Langsung saja ku dapatkan formulir
pendaftaran DAD dan ku isi dengan penuh semangat. Ku antarkan secarik kertas
berisi biodata itu ke sekret IMM dekat masjid kampus. Dengan penuh keyakinan,
ku serahkan formulir itu sampai hari screening
tiba. Bersama seorang sahabat baruku yang ia juga ingin ikut DAD, kami melewati
screening dengan lancar. Hanya saja
ia baru menyusulku seusai pulang kuliah.
Satu
persatu kakak-kakak penguji menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan Gerakan,
Motivasi, dan Kendala-kendala yang mungkin akan aku hadapi ketika nantinya
sudah bergabung dengan IMM. Aah,, pertanyaan-pertanyaan itu sempat membuat aku
bingung, tapi yaa Alhamdulillah dapat ku jawab dengan tuntas. Hingga akhirnya…
informasi Technical Meeting sampai
juga ke ponselku. J
Secara otomatis, ini berarti aku telah diterima menjadi salah satu peserta DAD
FKIP yang seminggu kemudian akan diadakan selama kurang lebih 3 hari lamanya.
“Tya,
yuk kita izin ke Ustadz… mudah-mudahan kita boleh ya ikut DAD ini”, ajakku
kepada Asmara Tantya, sahabatku yang hendak ikut DAD juga.
“Ya
udah yuk, mumpung sekarang Ustadz ada di ruang tamu”, jawab Tya.
Kami
berdua dengan penuh harap-harap cemas mendatangi Ustadz Samson untuk menanyakan
perihal ini.
“Kayfa
Ustadz? Apa kami boleh ikut DAD FKIP hari Jum’at besok?”
Taa
daaa… ternyata jawaban Ustadz di luar dugaan kami. Jawaban beliau sungguh
sempat melunturkan semangat dan niat kami kali ini. Kami yang pada waktu itu
masih semester satu butuh waktu untuk menyadari dan menerima keputusan ini. Apa
maksud Ustadz menghalangi gerak kami? Kami juga kan kader… ingin ikut
pengkaderan, khususnya di IMM, yang jelas-jelas anaknya Muhammadiyah… Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah ‘kan???
Subhanallah…
kami memang harus berlapang dada. Tapi… benar juga kata Ustadz, posisi kami di
sini selain sebagai mahasiswa juga ya mahasantri. Jadi kami harus “manut”
dengan nasehat Ustadz selagi nasehat itu baik. Kami betul masih semester satu,
masih harus menimba ilmu yang lebih banyak, menambah hafalan Qur’an, fokus
belajar pondok juga perkuliahan di kampus. Selain itu, dikhawatirkan ketika
sudah masuk organisasi nanti kami akan tersibukkan dengan agenda-agenda luar
pondok. Yaa… semacam itulah alasan-alasan bagi kami ketika belum diberi izin
untuk berkiprah di dunia organisasi (baca: ikatan). Dan yang paling
diwanti-wanti oleh pihak pondok memang, ketika kita di luar pondok pasti akan
banyak komunikasi dan interaksi yang lebih dengan lawan jenis. Itulah fitnah
yang paling dikhawatirkan Asatidz dan mbak-mbak kami di pondok yang lebih
berpengalaman. Intensitas pertemuan dengan lawan jenis akan semakin tinggi, dan
jebakan-jebakan “modus” mungkin saja akan terjadi dan lama kelamaan merajalela.
(Haha…)
Okelah
kalau begitu,,, kami harus bersabar paling tidak sampai kami semester 3, 5 atau
7. Eh, bukan… bukan hitungan semester, tapi hitungan hafalan Qur’an! Paling
nggak kami harus punya hafalan 5 juz lebih baru boleh bergabung dan masuk dalam
kepengurusan organisasi lain di luar pondok. Aku sendiri sempat kecewa, tapi
yaa apalah daya… Ustadz pasti lebih tahu bagaimana baiknya untuk kami yang
masih polos ini,,,
Maka
sejak saat itulah, meski aku belum bisa bergabung dalam baret merah… aku sudah
bertekad, meniatkan dalam hati, yakin dan percaya bahwa izin itu akan aku dapat
di suatu saat nanti! “Kalau memang kali ini aku gagal ikut DAD,, lihat saja, I
believe… insyAllah in the next year I can join it!” (#hahaha…)
...Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar