Kamis, 30 Oktober 2014

Kisah antara Aku dan Si Merah Marun (IMM) bag. 2



Lanjutan... Aku dan Ikatanku
 
Niatku Sudah Ada Sejak Itu…

Terdengar kabar akan ada Darul Arqam Dasar bagi mahasiswa baru yang ingin bergabung dengan ikatan merah. Wah, alangkah bagusnya jika aku segera mendaftarkan diri dan bertemu dengan kawan-kawan baru di sana. Langsung saja ku dapatkan formulir pendaftaran DAD dan ku isi dengan penuh semangat. Ku antarkan secarik kertas berisi biodata itu ke sekret IMM dekat masjid kampus. Dengan penuh keyakinan, ku serahkan formulir itu sampai hari screening tiba. Bersama seorang sahabat baruku yang ia juga ingin ikut DAD, kami melewati screening dengan lancar. Hanya saja ia baru menyusulku seusai pulang kuliah.
Satu persatu kakak-kakak penguji menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan Gerakan, Motivasi, dan Kendala-kendala yang mungkin akan aku hadapi ketika nantinya sudah bergabung dengan IMM. Aah,, pertanyaan-pertanyaan itu sempat membuat aku bingung, tapi yaa Alhamdulillah dapat ku jawab dengan tuntas. Hingga akhirnya… informasi Technical Meeting sampai juga ke ponselku. J Secara otomatis, ini berarti aku telah diterima menjadi salah satu peserta DAD FKIP yang seminggu kemudian akan diadakan selama kurang lebih 3 hari lamanya.
“Tya, yuk kita izin ke Ustadz… mudah-mudahan kita boleh ya ikut DAD ini”, ajakku kepada Asmara Tantya, sahabatku yang hendak ikut DAD juga.
“Ya udah yuk, mumpung sekarang Ustadz ada di ruang tamu”, jawab Tya.
Kami berdua dengan penuh harap-harap cemas mendatangi Ustadz Samson untuk menanyakan perihal ini.
“Kayfa Ustadz? Apa kami boleh ikut DAD FKIP hari Jum’at besok?”
Taa daaa… ternyata jawaban Ustadz di luar dugaan kami. Jawaban beliau sungguh sempat melunturkan semangat dan niat kami kali ini. Kami yang pada waktu itu masih semester satu butuh waktu untuk menyadari dan menerima keputusan ini. Apa maksud Ustadz menghalangi gerak kami? Kami juga kan kader… ingin ikut pengkaderan, khususnya di IMM, yang jelas-jelas anaknya Muhammadiyah… Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ‘kan???
Subhanallah… kami memang harus berlapang dada. Tapi… benar juga kata Ustadz, posisi kami di sini selain sebagai mahasiswa juga ya mahasantri. Jadi kami harus “manut” dengan nasehat Ustadz selagi nasehat itu baik. Kami betul masih semester satu, masih harus menimba ilmu yang lebih banyak, menambah hafalan Qur’an, fokus belajar pondok juga perkuliahan di kampus. Selain itu, dikhawatirkan ketika sudah masuk organisasi nanti kami akan tersibukkan dengan agenda-agenda luar pondok. Yaa… semacam itulah alasan-alasan bagi kami ketika belum diberi izin untuk berkiprah di dunia organisasi (baca: ikatan). Dan yang paling diwanti-wanti oleh pihak pondok memang, ketika kita di luar pondok pasti akan banyak komunikasi dan interaksi yang lebih dengan lawan jenis. Itulah fitnah yang paling dikhawatirkan Asatidz dan mbak-mbak kami di pondok yang lebih berpengalaman. Intensitas pertemuan dengan lawan jenis akan semakin tinggi, dan jebakan-jebakan “modus” mungkin saja akan terjadi dan lama kelamaan merajalela. (Haha…)
Okelah kalau begitu,,, kami harus bersabar paling tidak sampai kami semester 3, 5 atau 7. Eh, bukan… bukan hitungan semester, tapi hitungan hafalan Qur’an! Paling nggak kami harus punya hafalan 5 juz lebih baru boleh bergabung dan masuk dalam kepengurusan organisasi lain di luar pondok. Aku sendiri sempat kecewa, tapi yaa apalah daya… Ustadz pasti lebih tahu bagaimana baiknya untuk kami yang masih polos ini,,,
Maka sejak saat itulah, meski aku belum bisa bergabung dalam baret merah… aku sudah bertekad, meniatkan dalam hati, yakin dan percaya bahwa izin itu akan aku dapat di suatu saat nanti! “Kalau memang kali ini aku gagal ikut DAD,, lihat saja, I believe… insyAllah in the next year I can join it!” (#hahaha…)

...Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar